Aku dalam kondisi mendaki tangga, dan yang terjadi adalah lupa bawa benda penerang, dan yang terjadi adalah tersandung, dan tersakiti, sehingga aku harus mengulang.
Dalam pada itu, aku terus berjuang mencari cara untuk tidak selalu begitu, sebab yang aku tahu aku terus salah dalam mempercayakan sebuah pelita yang juga membawa senang.
Baru 7 langkahnya aku lewati, pertama sudah merasa tidak apa-apa coba selangkah, meski berbahaya, sebab cahaya lilin yang kubawa belum dinyalakan. Berhasil karena baru satu saja.
Baru langkah kedua aku terangi lilinya, berdoa langkah ketiga baik-baik saja, dan ternyata ada angin cukup kencang dari lorong, dan aku jaga jangan sampai cahaya itu menjadi padam. Lalu aku langkahkan kaki ke anak tangga 4, dan yang terjadi lilin akhirnya padam, aku ganti penerangan dengan senter dari HP yang cukup terang. Akhinya aku sampai pada pijakan ke 5, dan yang terjadi aku asik lihat HP berserta mainan, dan oborolan, serta hiburannya, lalu langkah ke 6, aku mulai sibuk-sibuk, sedih-sedih, senang-senang, dan pada langkah ke 7 aku terjatuh kembali di pembasuhan awal saat diri untuk menyiram luka-luka terguling di anak tangga tadi. Aku rasa emosi, sebab aku tak tahu batasan dari semua ini.
Semua terlihat baik, awalnya selalu begitu hai Diary yang aku tulis sekarang ini hanya kalau aku berguling-guling kebawah lagi. Sungguh sebenarnya ini menyebalkan sekali, bahkan tidak masuk kedalam hobi. Tetapi aku ingin ini nanti ada titik henti, menjadi ingatan akan perjuanganku seorang diri untuk melawan diri, dan melawan yang menyakiti, dan melawan yang menghambat diri ku yang hina ini.
Sesungguhnya tangga yang sedang ku jalani ini adalah hidup ini, dan aku ingin naik ke level yang lebih tinggi, dimana gerbang terbuka, dan aku bisa beristirahat sejenak, sebelum aku membasuh diri untuk melayani, ganti kepraktisan yang tak ku mengerti dari Tuan pemilik tubuh ku ini.
Tuan sampai detik aku menulis ini aku percaya, dan mengimani ada kepraktisan itu dalam pikiran, dan hati. Tetapi aku mengeluh, dan menyakiti diri sendiri dengan kalah berperang pada hari-hari yang telah kulewati. Sungguh aku ingin sebenarnya seperti banyak manusia di bumi, yang tidak perduli akan penyesalan-penyesalan gagal, dan balik lagi, dan akhirnya diam tidak ingin berusaha mencoba naiki tangga untuk melewati seberapa kita kuat tahan uji.
Dan demikian sebenarnya aku hendak tidak perduli, ingin menjadi sama dengan mereka yang tidak mengerti tentang hikmat yang tinggi. Tetapi yang kusadari aku beda sendiri, aku tahu itu lebih dari kawan-kawan yang aku kenal di Bumi. Sehingga aku merasa tertuntut untuk melakukan itu lebih dari mereka yang aku tahu mudahnya menjalani hari-hari.
Ah, sekiranya aku bisa tahu tentang menafsir esok hari, juga mengerti arti mimpi yang sering menghinggapi supaya aku mawas terhadap serangan yang terjadi, dan bisa selalu bersyukur atas susahnya menjadi lebih dari orang-orang yang aku kenal selama masih berjalan seorang diri.
Kali ini aku ingin mengulangi, sebab pengertian di otak ini menuntut aku harus lolos tanpa ada cacat sama sekali. Jadi aku coba tulis jabarkan semua siasat yang aku ingin jalani.
1. Aku mulai berhenti asik di layar terang penghipnotis tubuh duniawi. ; maksudnya itu sudah berhasil
cuma pertahankan. Pertanyaanya dilarang tidak ? lempar koin untuk menjawabnya. Garuda untuk ya
tidak dilarang, nominal untuk tidak boleh dilanjutkan meski sudah bertahan. Ternyata jawabnya tidak kompromi. Nikmatilah keinginan sederhana yang menyehatkan tubuh dengan pikiran sesekali.
2. Aku tidak ingin dari udara keluar suara intonasi bahwa aku berkata ini itu seakan tau semua hal di
bumi. Dilarang membantu yang tak pantas dibantu, sebab mutiar tak dikenal oleh para babi, atau
mereka yang menggongong bila tak kau tahu cara kamu membantu malah digigit sendiri. Kamu
berharga hei, Alfi tapi biarlah yang tak mengenal harga suara, tenaga, atau kehadiran Mu dihakimi oleh Tuan pemilik rumah tubuh kita ini. Doalah akhir-akhir ini doa mu saat sudah ditangga level 7
sangat kuat sekali. Ingat barang kali pada level paling tinggi saat setahun berganti, bisa jadi doa rejeki itu seperti hujan emas bagi kita penuh terisi.
3. Aku sekarang masih meneruskan siasat bahwa di pembasuhan merawat sesuatu yang tak ku ingini,
bukan untuk aku tetapi sayang bila ditinggalkan sama sekali. Aku akan berhenti, saat dua itu
mengairi, dan berhenti tepat saat sedikit tersakiti pada contoh ketetapan 20, aku rasa kegagalan ada
rasa didepan pintu, aku berhenti di 10 dan sudahi.
4. Aku coba lihat fajar diufuk timur setiap hari, dan tangan melipat barusaha diladang meski belum
kelihatan hasil sama sekali, tetapi tetap kuat sebab inilah modal bagi diri di kemudian nanti.
Oh, 4 poin ini yang katanya dari timur adalah angka mati. Baiklah aku mati, tapi untuk bangkit lagi, supaya hidup berkemenangan setiap hari.
Tangga itu terang dari hati, dan aku harap itu tersedia sambil menuju rumah Tuan
Reviewed by Alfiyanto.J.S
on
9:51 PM
Rating:
Reviewed by Alfiyanto.J.S
on
9:51 PM
Rating:

No comments: